Perjudian dalam Berbagai Pandangan Agama Yang Ada Di Dunia

Perjudian dalam Berbagai Pandangan Agama

Kegiatan perjudian merupakan salah satu kegiatan yang dipandang buruk oleh banyak orang. Kegiatan ini menggunakan taruhan dalam bermain dan memiliki dampak negatif.

Dalam pandangan hukum, judi sendiri dikategorikan sebagai wujud kriminalitas. Lalu, bagaimana pandangan agama dalam melihat judi ini?

Beberapa pandangan mengenai judi dari sudut pandang berbagai agama memperlihatkan dampak negatif dari judi. Bagaimana penjelasannya?

Judi dalam Hukum Islam

Perjudian dalam agama Islam termasuk ke dalam perbuatan yang tercela. Judi merupakan kegiatan haram dan harus dijauhi. Perbuatan menyimpang ini termasuk ke dalam perbuatan munkar, di mana bernilai negatif dan harus dijauhi.

Dalam agama Islam, judi disebut juga sebagai perbuatan maysir. Perbuatan ini dilarang oleh Allah SWT. di mana disebutkan bahwa perbuatan maysir akan membuat seseorang terkena risiko yang besar dan gharar.

Baca Juga : Gejala, Penyebab, dan Efek Kecanduan Judi

Maysir sendiri merupakan semua kegiatan yang mengandung unsur taruhan. Taruhan di sini bukan hanya uang, melainkan semua hal yang diperoleh dengan cara mengundi nasib seperti mobil, tanah, rumah, dan lainnya.

Sedangkan perjudian atau maysir dalam kitab Imam Syafii disebutkan bahwa kegiatan ini terjadi jika ada dua orang atau lebih yang melakukan lomba pacuan kuda dan sama-sama bertaruh. Jenis ini diperbolehkan jika ada pihak ketiga atau muhallil yang berfungsi menghalalkan akad.

Sementara itu, perjudian atau maysir dalam Qanun No 13 Tahun 2003 merupakan segala kegiatan yang bersifat taruhan antar dua pihak atau lebih, di mana pihak yang menang akan mendapatkan bayaran. Sehingga hukumnya haram.

Dalam Al-Quran, perbuatan judi termasuk ke dalam bagian dari yang dilarang oleh Allah SWT. Hal ini tertulis dalam QS. Al – Baqarah : 219.

Ayat ini berbunyi “Mereka bertanya kepadamu (Wahai Muhammad) tentang minuman keras dan judi. Jawablah kepada mereka, bahwa pada keduanya ada dosa dan ada manfaatnya bagi manusia, tetapi dosanya lebih besar dari manfaatnya” (QS. Al – Baqarah : 219).

Baca Juga : Macam-Macam Permainan Sportsbook yang Beragam

Perbuatan Judi dalam Kacamata Islam

Jika perbuatan judi merupakan kegiatan yang dilarang oleh agama, maka setiap orang yang melanggar akan dikenai hukuman dosa oleh Allah SWT. Perbuatan yang menggunakan taruhan ini menjadi salah satu perbuatan yang tidak disukai oleh Allah SWT. karena termasuk ke dalam perbuatan buruk.

Perbuatan jahat dapat dikatakan sebagai perbuatan buruk dan menyimpang apabila dilakukan oleh orang yang berakal sehat dan sadar. Setiap orang yang perbuatan buruk dan menyimpang perlu diberi sanksi ta’zir agar tidak mengulangi perbuatannya.

Maka, perbuatan judi juga bisa dikategorikan sebagai tindakan kejahatan apabila memenuhi beberapa unsur. Unsur yang pertama yaitu ada dua orang atau lebih yang bertaruh.

Di sini pemain yang menang akan dibayar oleh pemain yang kalah. Unsur kedua adalah uang atau benda yang dijadikan alat taruhan.

Dengan demikian, ketika pemain yang menang mendapat bayaran dari pemain yang kalah berupa uang taruhan, maka dapat dikategorikan sebagai perbuatan judi.

Kegiatan Perjudian dalam Jarimah Ta’zir

Kajian Fiqih Jinayah memuat tiga tarimah. Ketiganya adalah jarimah qishash yag terdiri atas pembunuhan, penganiayaan. Selanjutnya ada jarimah hudud yang terdiri atas zina, jarimah qadzf, jarimah syurb al-khamr, jarimah al-baghyu.

Dan yang terakhir jarimah ta’zir yaitu semua jenis tindak pidana yang tidak secara tegas di atur oleh al-qur’an dan hadist

Jika menganut pada Fiqih Jinayah tersebut, maka dapat dikatakan jika perbuatan judi masuk ke dalam jarimah ta’zir. Kegiatan juadi masuk ke dalam perbuatan maksiat yang harus dihindari.

Mengacu pada fiqih jinayah, perbuatan judi dalam agama Islam dapat dikatakan sebagai bentuk tindak pidana di mana jumlah hukum dan bentuknya tidak diatur oleh syara’. Ada tiga pidana di dalamnya, yaitu:

1. Tindak pidana ta’zir yang asli, yaitu segala jenis tindak pidana yang tidak termasuk dalam kategori tindak pidana hudud qishash dan diat.

2. Tindak pidana hudud yang tidak dijatuhi oleh hukuman yang ditentukan yaitu tindak pidana hudud yang tidak sempurna dan yang hukumnya hadnya terhindar dan dihapus.

3. Tindak pidana qishash dan diat yang tidak diancamkan hukuman yang ditentukan.

Perjudian dalam Pandangan Kristen

Agama Kristen selalu mengajarkan tentang hal-hal baik dan kedamaian. Melalui kitab sucinya, perbuatan manusia diatur sebaik mungkin agar menciptakan kondisi yang harmonis. Sementara itu, judi dalam pandangan Kristen diatur dalam beberapa ayat.

Perjudian dalam agama Kristen dianggap sebagai perbuatan yang buruk. Hal ini karena menyentuh lima aspek. Berikut penjelasannya:

1. Hindari Hawa Nafsu

Dalam Galatia 5:24 disebutkan bahwa “Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.” Jika melihat dalam konteks judi, berarti berseberangan dengan ajaran al-kitab. Judi merupakan kegiatan yang didasarkan pada hawa nafsu.

Perbuatan yang dilakukan atas dasar hawa nafsu harus dijauhi karena berbahaya. Keserakahan akan memenuhi diri seseorang yang kecanduan dengan judi, inilah yang dibenci oleh Tuhan.

2. Daging yang Lemah

Dalam Markus 26:41 “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.”

Di sini, Tuhan tidak menghendaki jika manusia menuruti keinginan daging yang lemah dan jatuh dalam dosa. Sehingga, untuk menghindarinya harus dilakukan cara berdoa dalam roh dan berjaga-jaga.

Dengan melakukan doa dan memohon ampunan, maka manusia akan dijauhkan dari segala perbuatan yang buruk, termasuk judi.

3. Kejahatan

Dalam 1 Timotius 6:10 “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.”

Dengan ayat ini memperlihatkan bahwa orang-orang yang kecanduan judi bermain taruhan atas dasar uang. Tuhan tidak menyukai orang yang terlalu mengejar kekayaan instan dan mencintai uang secara berlebihan.

Allah tidak menyukai perbuatan rakus dan tamak. Perbuatan ini nantinya akan menyebabkan masalah lain yang membuat kehidupan banyak masalah

4. Sesat

Dalam Yakobus 1:16 “Saudara-saudara yang kukasihi, janganlah sesat!”. Melalui ayat ini dijelaskan bahwa judi adalah perbuatan yang sesat sehingga harus dijauhi. Allah tidak menginginkan umatNya tersesat dalam keburukan.

Untuk menjalani hidup, manusia harus berjalan dalam jalan yang lurus dan sesuai dengan ketentuan roh kudus. Dengan mengikuti aturan Tuhan, maka hidup akan lebih terarah.

5. Jauhi yang Fasik

Dalam Amsal 4:14 “Janganlah menempuh jalan orang fasik, dan janganlah mengikuti jalan orang jahat.” Melihat penjelasan dan dampaknya, judi merupakan perbuatan jahat. Maka melalui Al-kitab, telah dijelaskan dan diperintahkan untuk meninggalkan perbuatan ini.

Allah melarang umatNya untuk melakukan segala jenis perbuatan jahat, termasuk perjudian. Dengan menjauhi perbuatan fasik, maka hidup akan lebih bahagia dan tentram.

6. Hidup Kudus

Dalam 1 Petrus 1:16 “Sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus”. Melalui ayat ini dijelaskan bahwa manusia harus hidup kudus dan menjauhkan diri dari dosa. Perjudian termasuk ke dalam perbuatan yang buruk, maka dengan ini harus dijauhi.

Penjelasan di atas sudah memberikan gambaran bagaimana Kristen mengatur tentang kegiatan perjudian. Kesimpulannya adalah bahwa perbuatan judi adalah kegiatan yang dilarang karena tidak sesuai dengan tuntunan dalam Al-kitab.

Allah mengajarkan manusia untuk selalu hidup dalam kedamaian dan menjauhi perbuatan negatif. Maka, bermain judi juga harus dijauhi agar selalu dalam keadaan kudus dan terjauh dari perbuatan yang mengarah pada hawa nafsu.

Judi Menurut Agama Hindu

Kegiatan perjudian merupakan salah satu kegiatan yang negatif karena memberikan dampak yang tidak baik. Hal-hal yang tidak baik ini masuk ke dalam penyakit masyarakat, dalam ajaran Hindu dikenal sebagai madat.

Orang yang tetap melakukan perbuatan buruk dan keji walaupun sudah diperingatkan berarti tidak mampu mengendalikan diri dan selalu terpengaruh oleh sifat-sifat wisaya karma, sifat Rajasika dan Tamasika. Sehingga Satwikanya tidak jalan atau tidak bisa berperilaku baik dan benar serta bijaksana.

Secara hukum negara, judi merupakan permainan yang dilarang karena melanggar undang-undang. Sementara dalam agama Hindu, judi tentu saja masuk ke dalam perbuatan yang tidak baik atau kejahatan.

Judi dalam agama Hindu dikenal dengan istilah memtoh, bahasa ini berasal dari bahasa Bali yaitu toh yang berarti taruhan.

Dalam agama Hindu sendiri, perbuatan judi sangatlah dilarang. Hal ini karena di dalam perbuatan judi ada sifat nafsu serakah, sombong, serta bisa memicu kemarahan. Perbuatan ini dituliskan dalam Kitab Smerti Sarasamuccaya “sloka 105 dan 106”.

Dalam kitab ini dituliskan “Kunang ikang wwang kakavaca dening krodhanya, niyata gumawe ulah puspa, makantang wenang amatyani guru, wenang ta ya tumirarskara sang sadhu, tumekesira parusawacana”.

Yang artinya maka orang yang dikuasai oleh nafsu murkanya, tak dapat tidak niscaya ia melakukan perbuatan jahat, sampai akhirnya dapat membunuh guru, dan sanggup ia membakar hati seorang yang saleh, yaitu menyerang akan dia yang berkata-kata kasar.

“Lawan Iwirning kakawaca dening krodha, tan wruhjuga ya ri salah kenaning ujar, tatan wruh ya ring ulah larangan, lawan adharma, wenang umajaraken ikang tan yukti wuwusakene”

Artinya: Tambahan pula orang yang dikuasai oleh nafsu murka, sekali-kali tidak tahu akan perkataan yang keliru dan yang benar, sekali-kali mereka tidak mengenal perbuatan yang terlarang dan yang menyalahi dharma + serta sanggup mereka mengatakan sesuatu, yang tidak layak untuk dikatakan.

Perbuatan Judi dalam Kitab Suci Hindu

Perjudian banyak memiliki dampak negatif, sehingga permainan ini haruslah dijauhi. Selain penjelasan di atas, perbuatan judi sendiri juga sudah dibahas dalam Kitab Suci Reg Veda X.34.13, disebutkan:

“Aksair tna divyah krsim it krsasva, Vitte ramasvabahu manyamanah tatmgawh kitavah tatra jada tan me viscate savitayam aryah”

Artinya : Wahai para penjudi, jangan bermain judi/bajaklah tanah itu, selalu puas dengan penghasilanmu sendiri, pikirkan bahwa itu cukup.

Pertanian menyediakan sapi -sapi betina dan dengan itu istrimu tetap berbahagia. Dewa Sawita, Dewa Alam Senresla, telah menasehatimu untuk berbuat begitu.

Dengan adanya penjelasan tersebut memanglah disebutkan bahwa perbuatan judi adalah kegiatan yang sangat dilarang dan harus dijauhi.

Manusia harus bersyukur dan mengikuti kehendak alam. Jangan mudah terpengaruh pada hasil instan dari perjudian.

Banyak orang yang jatuh miskin dan bangkrut karena judi dan mengikuti hawa nafsunya. Mereka seringkali tidak puas dan mencari hal-hal di luar kehendak dirinya. Akibatnya, mereka akan sengsara.

Seperti diceritakan dalam kisah Mahabarata, bahwa Yudistira yang saat itu ditipu ketika bermain judi dadu membuatnya kehilangan segalanya, termasuk kerajaannya.

Perintah untuk menjauhi kegiatan perjudian juga diatur dalam kitab suci Menawa Dharma sastra IX 221 yang berbunyi “Dyutam samahwayam caiwa, raja ratranniwarayet, rajanta karana wetau dwau, dosau pritikwisitham”

Artinya adalah perjudian dan pertaruhan supaya benar-benar dikeluarkan dari wilayah pemerintahannya karena menyebabkan kehancuran kerajaan dan putra mahkota.

Istilah kerajaan dan putra mahkota bisa ditafsirkan sebagai negara dari generasi penerus. Sedangkan pemerintahan bisa ditafsirkan sebagai penguasa.

Di dalam ajaran Hindu, orang-orang yang melanggar aturan dengan tetap melakukan perjudian dan kegiatan menyimpang lainnya dikategorikan sebagai orang srmana kota. 

Ini dijelaskan dalam sloka 225 Menawa Dharmasastra adalah yaitu orang-orang atau pencuri-pencuri tersamar (sloka 226) orang yang mengganggu ketentraman hidup orang baik baik.

Perjudian dalam Agama Buddha

Permainan judi memanglah suatu permainan yang dilarang, baik menurut agama maupun undang-undang.

Masyarakat dengan norma hidupnya juga mengatur bahwa judi adalah perbuatan yang negatif. Norma hidup ini menjadi pegangan dalam melaksanakan kehidupan.

Ajaran agama Buddha selalu berpegang teguh pada norma dan keseimbangan hidup agar dapat menjalankan hidup yang harmonis.

Pemeluk agama Buddha meyakini bahwa manusia hidup harus mengikuti tatanan yang baik agar tidak terjadi kejahatan.

Melihat hal demikian, maka dapat dikatakan jika perjudian melanggar ajaran sang Buddha.

Judi merupakan perbuatan yang jauh dari kebaikan, bahkan identik dengan hal negatif. Jika ini dibiarkan, maka perjudian yang merajalela akan semakin marak dan menimbulkan keresahan.

Ajaran agama Buddha mengajarkan manusia untuk senantiasa hidup dalam kesederhanaan dan menerima segala sesuatunya dengan rasa syukur.

Pemain judi seringkali identik dengan rasa tamak dan tidak mau bersyukur. Sehingga hal ini bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Kitab suci Vinaya Pitaka , Sutta Pitaka dan Abhidamma Pitaka .

Dalam kitab sucinya, Sang Buddha mengajarkan nilai hidup yang berisikan empat kebenaran utama atau The Four Fold Noble Truth. Kebenaran ini menuntun umat manusia ke jalan yang baik dan benar. Apa saja nilai hidup ini?

Keempatnya adalah hidup adalah penderitaan (dukkha), sebab penderitaan timbul karena keinginan (Dukkha Nirodha). Berhentinya penderitaan hanya boleh diatasi dengan memadamkan keinginan (Dukkha Samudaya). Jalan menuju berhentinya penderitaan dengan memadamkan keinginan .

Nilai hidup inilah yang bertentangan dengan sifat-sifat judi. Maka permainan judi sangatlah tidak sesuai dengan ajaran Buddha yang lebih mengutamakan kesederhanaan dan tidak mengikuti hawa nafsu. . 

Konsep Judi dalam Kitab Agama Buddha

Perjudian memanglah bertolak belakang dengan segala nilai hidup dalam ajaran Sang Buddha.

Permain judi akan hidup dalam rasa yang tidak pernah puas dan mengejar duniawi terus menerus. Permainan judi juga tidak sesuai dengan ajaran di dalam kitab suci umat Buddha.

Konsep judi dalam pandangan Buddha di Digha Nikaya dalam kitab Sutta Pitaka disebutkan bahwa pemenang memperoleh kebencian dari yang kalah, yang kalah bersedih karena kekalahananya.

Ia kehilangan kekayaan, kata-katanya, sehingga ia tidak boleh dipercayai oleh mahkamah, dipandang rendah oleh saudara dan masyarakat, tidak dipercayai untuk terikat dalam pernikahan .

Konsep ini sangatlah identik dengan permainan judi yang saat ini banyak dikenal oleh masyarakat luas. Padahal Sang Buddha sendiri melarang manusia untuk melakukan perbuatan buruk ini.

Dalam agama Buddha disebutkan ada empat cacat perilaku manusia yang menuntut ke arah kejahatan. Cacat perilaku ini adalah  pembunuhan, pencurian, hubungan kelamin yang salah, dan ucapan yang salah.

Sementara hawa nafsu yang mendorong perbuatan buruk ini adalah keinginan, kebencian, ketakutan, dan kebodohan.

Dan enam hal yang akan membuat manusia bangkrut adalah minuman keras, judi, berkeluyuran di jalanan yang tidak pada waktunya, bergaul dengan wanita penghibur, teman yang jahat dan malas .

Sehingga dengan demikian sudah terbukti jelas bahwa Buddha melarang adanya permaina judi.

Semua agama melarang perbuatan yang menimbulkan keburukan, termasuk judi. Hampir semua agama memiliki kepercayaan kuat bahwa judi memberikan efek yang buruk dalam kehidupan manusia.

Baca Juga : Dampak Judi Online Dalam Kehidupan